TENTANG SINEMATOGRAFI
THE GRAND BUDAPEST HOTEL
VISUAL STYLE DALAM BERCERITA

grand-budapest-hotel

Wes Anderson dikenal sebagai sutradara yang unik. Ciri khasnya dalam bercerita mudah diingat penontonnya. Begitu pula dengan film terakhirnya yang berjudul The Grand Budapest Hotel. Film yang bercerita tentang pertualangan Gustave H seorang “concierge” sebuah hotel di sebuah republic fiksi bernama Zubrowka (diambil dari merk vodka terkenal di Polandia) bersama dengan “Lobby Boy” kepercayaanya bernama Zero Mustafa ini akan menjadi sebuah bukti sahih teraktual dari keunikan cara bercerita Wes Anderson.
Ada beberapa style yang selalu melekat dalam film-film Wes Anderson, diantaranya adalah : nostalgia, cara berdialog/berbicara yang aneh, selalu ada karya seni, kisah cinta yang unik, kegilaan akan simetri, warna dengan saturasi tinggi. Dan semua hal tersebut ada di The Grand Budapest Hotel. Di film ini kita juga bisa melihat bagaimana Wes Anderson sangat memperhaikan apa saja yang muncul dilayar sampai detil terkecil sekalipun. Dibantu dengan sinematografer langganannya Robert D. Yeoman, Wes Anderson mampu membuat sebuah dunia seperti dengan apa yang dia inginkan.
Kali ini penulis ingin menjabarkan Visual Style dari film terakhir Wes Anderson dan kaitannya dengan cara dia bercerita yang nantinya akan memberikan penonton kesan yang teramat sangat unik akan filmnya.

b_GRAND-BUDAPEST-HOTEL_5

The Canvas
Pada film, canvas sebagai tempat untuk sinematografer melukis adalah medium kamera (digital atau film) serta pemilihan aspect ratio. Pada film ini sinematografer Robert D. Yeoman menggunakan kamera Arricam Studio dari Arri Berlin dengan format film 35mm, Red Epic dan juga Canon 5D Mark II . Untuk lensa digunakan beberapa macam lensa Techno-Cooke prime 40mm, Cooke S4 prime lenses dan Angenieux Optimo 24-290mm zoom.

IMG_3441

7480877

cooke-panchro-6-lens-set
The Grand Budapest Hotel memiliki tiga timeline yang berbeda. The 1985-present, The 1960’s dan The 1930’s. Dari tiga era tersebut dipilihlah tiga aspect ratio yang berbeda sesuai dengan masing-masing era. Untuk era 1985-present digunakan aspect ratio 1.85:1. Era 1960’s digunakan aspect ratio yang sedang in pada saat itu anamorphic widescreen ratio 2.40:1 dan untuk era 1930’s digunakan aspect ratio dari standart Academy Motion Picture Arts and Sciences untuk studio pada tahun 1932 yaitu 1.37:1.
Film di shot mayoritas pada aspect ratio 1.37:1. Awalnya Wes Anderson menginginkan film dengan aspect ratio 1.33:1, aspect ratio yang biasa digunakan pada era silent film, namun ketika pelaksanaan kamera buatan Jerman tersebut ternyata memiliki ukuran yang sangat akurat dan 3% lebih lebar yaitu aspect ratio 1.37:1 yang entah kebetulan atau tidak aspect ratio tersebut dijadikan standart oleh Academy pada tahun 1932, persis dengan seting waktu pada The Grand Budapest Hotel.

buda2

buda3

 

buda1

The Composition
Komposisi adalah seni menyusun unsur-unsur yang ada di dalam frame agar selaras, harmoni dan seimbang. Hampir di setiap filmnya, Wes Anderson selalu menampilkan “kegilaannya” akan simetri.

Sering menempatkan POV pada center framing adalah kebiasaannya. Hal ini sering menjadi tanda tanya bagi para penonton filmnya terutama terkait dengan aesthetic. Pada seni visual baik lukis ataupun fotografi lebih dikenal Rule Of Thirds ataupun Golden Ratio dalam kaitannya dengan komposisi. Rule of Thirds adalah membagi layar menjadi 3 bagian sama persis dan menempatkan objek pada titik pertemuan garis. Sedangkan Golden ratio sebenarnya versi rumit dari Rule Of Thirds yang berasal dari teori Fibonacci. Dua teori aesthetic ini yang sering dipakai dalam komposisi.

buda7

phi4

Dari sinilah bisa dilihat keunikan dari Wes Anderson yang paling jelas terlihat. Alih-alih mengikuti teori yang sudah pakem selama ini, Wes Anderson menciptakan stylenya sendiri untuk mendukung caranya bercerita. Simetri yang digunakan Wes Anderson memiliki fungsi, diantaranya :

1. Memberikan penekanan pada objek tertentu (Emphasis).
Dalam pengunaan center-weight composition di filmnya. Wes Anderson menggunakan tekhnik tersebut untuk memberikan penekanan pada berbagai macam hal. Seperti penegasan karakter, emosi yang sedang dialami karakter atau memberikan kesan tentang lokasi.

vlcsnap-2015-02-11-18h55m03s20

2. Bercerita dengan cara yang simple.
Dengan menempatkan POV ditengah frame ditambah dengan memisahkan POV dengan objek disekitarnya (biasanya dengan penggunaan warna) membuat penonton dengan mudah mampu melihat, memperhatikan, dan memahami apa yang sedang ditampilkan di layar.

vlcsnap-2015-02-11-18h51m00s153
3. Memberikan kesan unik dalam portrait.
Pada film-film Wes Anderson identic dengan karakter-karakter yang unik bahkan cenderung aneh. Dalam dunia Wes Anderson semakin aneh adalah semakin normal. Dan untuk menggambarkan hal tersebut penggunaan center-weight composition sangatlah tepat guna.

vlcsnap-2015-02-11-18h58m05s43
4. Sebagai sebuah humor.
Kelucuan dalam film Wes Anderson kadang kala juga terbentuk dari penempatan objek ditengah frame. Penempatan objek ditengah frame membuat gambar seakan komikal. Contohnya adalah ketika Gustave H dan Mustafa bersembunyi di dapur.

vlcsnap-2015-02-14-10h41m31s96
Khusus pada scene ber aspect ratio 1.37:1, ada beberapa hal yang ditekankan oleh Director of Photography Robert D. Yeoman untuk mengakomodasi keinginan Wes Anderson. Salah satunya adalah memberikan ruang negative diatas kepala (head room) yang lebih luas. Hal ini dikarenakan pada aspect ratio tersebut ruang tidak terlalu lebar. Sehingga untuk memberikan kesan nyaman dan tidak berdesakan dibuatlah space yang cukup lebar pada head room.

vlcsnap-2015-02-14-08h52m20s165

Sedang ketika double shot objek diletakkan sangat mendekati frame terluar, bahkan seringkali terpotong. Hal ini dikarenakan aspect ratio 1.37:1 tidaklah terlalu lebar sehingga salah satu cara saat double shot agar objek tidak terlalu berdekatan dan terasa sempit objek lebih digeser melebar.

vlcsnap-2015-02-11-18h49m33s49
Selain penggunaan center-weight composition, Wes Anderson juga memiliki suatu ciri khas. Dimana kebiasaan ini semakin menambah kesan humor pada filmnya. Jika diperhatikan lebih detil meski selalu menaruh objek ditengah frame, Wes Anderson juga tidak membiarkan adanya garis horizon yang lurus. Alih-alih lurus tanpa distorsi, garis horizon di film-film Wes Anderson selalu melengkung sehingga tampilan tampak lebih cembung.

vlcsnap-2015-02-11-18h45m35s227

vlcsnap-2015-02-11-19h06m21s140
Banyak yang mencibir kebiasaan Wes Anderson ini seperti seorang yang menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Center Weight Composition dianggap sangat tidak natural dan banyak lagi yang lainnya. Tapi satu yang pasti, Wes Anderson mampu memberikan ciri khas yang unik pada setiap filmnya.

buda9

The Angle(s)
Aspek lain dalam visual style yang berpengaruh pada story telling adalah sudut bidik kamera. Dalam The Budapest Hotel, Wes Anderson tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan film-film dia yang lain. Kebiasaanya menaruh POV di tengah frame sebenarnya bisa berakibat repetisi yang nantinya cenderung membosankan. Tapi bukan Wes Anderson jika membiarkan penontonnya merasa bosan.
Wes Anderson menambahkan bumbu lain pada visual stylenya yaitu sudut bidik kamera yang sangat variatif. Penggunaan aspect ratio juga menambah variatif angle kameranya. Dibawah ini beberapa angle yang sering muncul di The Grand Budapest Hotel.

eyelevel

lowangle

high angle

extreme long shot

framming

deep focus

Birdseye

pov

Selain angle-angle tersebut, Wes Anderson juga memainkan peran “scale” dalam story tellingnya. Scale yang dimaksud disini adalah perbedaan “ukuran” objek pada frame. Scale berfungsi menjelaskan dan menggambarkan power relationship antar karakter.
Seperti screenshot dibawah dimana ketika Gustave berhadapan dengan Dmitri. Disana bisa terlihat Gustave memiliki scale yang lebih kecil dari Dmitri. Di shot dari angle diatas mata sehingga seakan-akan sedang “menginterogasi” Gustave memberikan kesan lebih powerfull pada sisi Dmitri.

vlcsnap-2015-02-14-09h07m42s169

The Color
Dari aspek visual yang menjadi ciri khas Wes Anderson, tone color di The Grand Budapest Hotel adalah yang paling berbeda disbanding film-film sebelumnya. Meski masih menggunakan “limited pallete” dan saturasi yang tinggi, perbedaan tone color ini lebih cenderung dikarenakan untuk menyesuaikan dengan set cerita. Jika biasanya Wes Anderson menggunakan warna-warna hangat (warm) pada filmnya, kali ini dia menggunakan warna yang cenderung dingin. Menyesuaikan set cerita dimana Republic Zubrowka terletak di pegunungan Alpen Eropa.

moonrise_kingdom_23

The_Royal_Tenenbaums_632

The-Darjeeling-Limited

Saat pertama kali ingin membuat film ini, Wes Anderson menunjukkan foto-foto lawas era akhir abad 19an dan awal abad 20an kepada seorang colorist bernama Jill Bogdanowicz. Dia berkata “saya ingin membuat warna-warna seperti ini, apakah bisa?”. Sebelum menjawab, Bogdanowich melakukan sedikit penelitian dulu. Penelitian ini dilakukan karena Wes Anderson tidak hanya ingin sekedar mirip, tapi harus sama persis dengan apa yang dia minta. Bekerja sama dengan ayahnya, yang juga seorang color scientist berpengalaman di Kodak dan Technicolor mereka mencoba menciptakan 3D Luts yang sesuai dengan yang diminta oleh Wes Anderson.

fotocrome
Foto yang ditunjukkan oleh Wes Anderson adalah foto yang menggunakan tekhnik Photochrome. Tekhnik ini adalah mewarnai sebuah foto yang berasal dari negatif hitam-putih. Hasil foto yang mengunakan tekhnik ini memiliki keunikan pada warna yang terbatas. Dan hasil penelitian Jill Bogdanowicz ini bisa dilihat pada penggambaran Republic Zubrowka dan Budapest Hotel.

vlcsnap-2015-02-14-10h59m48s98

vlcsnap-2015-02-14-11h00m17s130
Perbedaan seting waktu yang berpengaruh pada perbedaan aspec ratio juga memberikan pengaruh pada perbedaan warna yang dipilih. Pada era 1985 dipilihlah warna yang lebih kalem dengan saturasi yang juga tidak terlalu tinggi. Pada era 1960an dipilih warna yang lebih tegas dengan mayorita kuning, emas dan hijau. Dan pada era 1932 dipilihlah warna dengan saturasi sangat tinggi dan juga lebih cerah.

vlcsnap-2015-02-11-19h19m29s87
Conclusion
Visual style adalah salah satu ciri dan keunggulan yang dimiliki oleh Wes Anderson. Perhatiannya pada detil visual adalah dikarenakan bahwa visual style yang dia inginkan berkaitan dengan cara dia bercerita, cara dia menjelaskan karakter dan cara dia menjabarkan konflik. Sinematografer Robert D Yeoman pada wawancaranya dengan majalah American Cinematographer mengatakan “Unless you’re Chris Nolan or Quentin Tarantino or Wes Anderson, you’re going to be shooting digitally”. Perkataan ini menjelaskan bahwa Wes Anderson telah sangat dipercaya oleh studio. Dia bisa menggunakan film seluloid, mengunakan aspect ratio yang berbeda, apapun yang dia mau, studio akan mengiyakan. Keunikannya dianggap mampu untuk mendatangkan penonton pada film-filmnya.

vlcsnap-2015-02-11-18h47m21s4

Oleh : Yohan Arie (@aerorun)

 

Daftar Bacaan :

http://www.studiodaily.com/2014/03/inhabiting-wes-andersons-world-of-color-in-the-grand-budapest-hotel/

http://www.davidbordwell.net/blog/2014/03/26/the-grand-budapest-hotel-wes-anderson-takes-the-43-challenge/

http://www.theasc.com/ac_magazine/March2014/TheGrandBudapestHotel/page3.php