Dragon-Blade

Sewaktu Around The World in 80 Days (2004) rilis, saya sempat diprotes beberapa kawan karena berpendapat bahwa Jackie Chan pada periode itu tak lebih dari seorang badut Hollywood. Lihatlah Shanghai Noon, Rush Hour atau yang paling parah The Tuxedo. Beberapa ada yang menghibur, tapi rasanya bukan kapasitas seorang Jackie yang kita kenal. Setelah itu, dia memang sanggup membuktikan mengapa dia adalah salah satu bintang terbesar di Asia melalui New Police Story (2004), The Myth (2005) dan Rob-B-Hood (2006). Namun kemudian, film-film Jackie Chan kembali memasuki era Hit and Miss, terutama Police Story 2013 yang menurut saya merupakan salah satu film terburuk tahun lalu. Bertepatan dengan hari raya Imlek tahun ini, Jackie Chan hadir kembali dengan film terbarunya Dragon Blade, film termahal sepanjang sejarah perfilman Cina yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Lee (14 Blades, Three Kingdoms: Resurrection of The Dragon).

Dragon Blade berkisah tentang pertikaian antara 36 suku bangsa yang tersebar di sekitar wilayah Jalur Sutra (Silk Road). Jalan sepanjang kurang lebih 7,000 kilometer ini merupakan lalu lintas perdagangan vital yang menghubungkan wilayah Cina daratan dan kerajaan Romawi. Huo An (Jackie Chan) adalah komandan pasukan penjaga perdamaian di sekitar Jalur Sutra. Pasukan dengan anggota terbatas namun mempunyai skill bertarung yang tinggi ini bergerak secara swakarsa untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah akibat gesekan antar suku-suku tersebut. Semua berubah ketika dirinya dijebak dan dihukum kerja paksa untuk merekonstruksi Gerbang Angsa Liar (Wild Geese Gate), disinilah dia kedatangan tokoh Lucius (John Cusack) komandan tentara Romawi yang mencari perlindungan dari kejaran Tiberius (Adrien Brody), jenderal ambisius yang tega membunuh ayah dan membutakan mata adiknya sendiri demi kekuasaan.

dragon-blade-cusack-chan-brody

Dragon Blade mengusung pesan anti-war yang relevan dengan peta situasi dunia masa kini, akan tetapi film ini seperti kebingungan dengan cara penyampaian tema itu sendiri karena elemen komedi, tragedi dan kebangsaannya bertabrakan satu sama lain. Hal ini semakin diperparah dengan pola bercerita yang terlihat seperti sejumlah klip-klip pendek yang digabungkan menjadi satu namun tidak berkesinambungan. Disjointed and wrongfully approached. Tak mengherankan apabila penonton malah menertawakan scene yang dimaksudkan sebagai tragedi penyayat hati karena pengaruh scene sebelumnya yang komedik. Tokoh Huo An terlalu sibuk menjadi pahlawan sehingga pengorbanannya di sana sini mudah terabaikan. Saat John Cusack hadir tanpa kesan, Adrien Brody tampil berkharisma memberikan aura kejam dan bengis namun itupun sebenarnya tertolong fokus kamera yang tak henti-hentinya men-close up hidung bengkoknya dengan gerakan slow motion. Dan kita tak perlu membahas Choi Siwon, anggota boyband Super Junior asal Korea dengan penampilan yang paling tidak penting diantara jajaran para aktor utama.

video.asiamedia.com@4128f033-4d31-3374-917b-607c813365f6_FULL

Sebagai film yang menonjolkan keragaman ras dan suku bangsa, Dragon Blade berhasil memaksimalkan budget senilai 65 juta dollarnya dengan production value yang tinggi. Terlihat dari desain kostum, lokasi set cantik, jumlah figuran dan props mekanikal yang detail. Akan tetapi keunggulan ini hanya terasa sebagai upaya Daniel Lee untuk memberikan bukti kepada para investor bahwa dana yang mereka tanamkan ada hasilnya. Film kolosal yang megah ini hampa dan nyaris kehabisan akal hingga si sutradara seperti terpaksa ‘meminjam’ ide dari adegan penutup perang di The Hobbit: The Battle of Five Armies (2014). Pencapaian Dragon Blade ini sangat disayangkan karena faktor casts pendukung dan dana produksi sudah sangat solid. Another miss from Jackie Chan, meskipun pesan perdamaian antar bangsa yang dihembuskan film ini adalah sesuatu yang mulia.  two-stars-md