vlcsnap-2015-02-23-00h19m40s73

Dari beberapa nominasi best cinematography untuk Oscar tahun 2015 muncul nama Ida. Sebuah film asal Polandia yang disutradarai Paweł Pawlikowski dan sinematografer Łukasz Żal dan Ryszard Lenczewski yang berkisah tentang perjalanan seorang gadis biarawati bernama Anna yang mencari tahu sejarah keluarganya. Film ini menggunakan The Academy Aspect Ratio 1.37:1 dan untuk warna menggunakan black & white. Hampir seluruh scenes di shot dengan kamera menancap pada tripod. Film ini memang minim pergerakan kamera, pergerakan kamera bisa dihitung dengan jari. Tapi bukan berarti film ini menjadi film yang membosankan dari segi sinematografi, keputusan untuk mengurangi sesedikit mungkin gerak pada kamera untuk mendukung hal yang lebih kuat. Hal yang paling kuat dari film ini adalah komposisi.

vlcsnap-2015-02-23-00h20m56s71

vlcsnap-2015-02-23-00h26m11s148
Stanley Kubrick pernah berkata “To make a film entirely by yourself, which initially I did, you may not have to know very much about anything else, but you must know about photography”. Fotografi menjadi aspek yang paling utama disaat pembuatan Ida. Ketika cerita awal sudah selesai dibuat oleh si sutradara, sinematografer Ryszard Lenczewski mulai memotret apa saja yang sekiranya berkaitan dengan cerita. Lokasi, tone color, dan bentuk visual keseluruhan dicoba untuk dicari mana yang paling tepat. Ryszard Lenczewski akhirnya memiliki total kurang lebih 3000 foto yang berkaitan dengan proses pembuatan Ida. Cara ini digunakan oleh sinematografer selain berfungsi langsung sebagai storyboard yang terutama adalah cara tersebut adalah cara dia berkomunikasi dengan sutradara.

Ida-Sketches1

Pada wawancaranya, Ryszard Lenczewski mengatakan hampir dari semua aspek visual yang pernah dibuat terinspirasi dari seorang fotografer bernama Jeanloup Sieff. Yang terutama penggunaan satu lighting source nya menjadi landasan pada lighting di film Ida.

11-web

Karena sangat didasari oleh aestethic fotografi tidak heran Ida bagai sebuah kumpulan foto dan portrait yang sangat indah. Sebuah film yang bisa kita pause kapan saja, lalu kita ambil screenshot dan mencetaknya kemudian menggantungkannya di dinding sebagai hiasan. Tidak salah jika pihak academy mengganjarnya dengan nominasi best cinematography. Dalam tulisan kali ini penulis ingin sedikit membahas salah satu aspek yang erat kaitannya dengan fotografi yang juga menjadi salah satu aspek terkuat di film ini. Penulis tidak menuliskan dari hal yang umum ke yang khusus melainkan sebaliknya, dikarenakan apa yang tampak dari visual Ida berasal dari hal yang khusus yang kemudian secara tak disangka merupakan penterjemahan secara sempurna dari teori yang lebih umum.

vlcsnap-2015-02-23-00h19m15s82

 

NEGATIVE SPACE
Secara sederhana Negative Space adalah ruang yang melingkupi objek utama. Untuk ruang yang ditempati objek disebut Positive Space. Fungsi negative space adalah untuk memisahkan objek utama dengan yang lainnya sehingga akan mempetegas maksud dari objek utama.

vlcsnap-2015-02-23-00h27m19s61

vlcsnap-2015-02-23-00h23m07s105

Dalam Ida sangat terasa penempatan negative spaces nya sangat tidak biasa. Objek diletakkan sangat dibawah, dengan menyisakan ruang yang sangat luas diatas kepala (headroom).

vlcsnap-2015-02-23-00h29m07s114

vlcsnap-2015-02-23-00h18m11s215

Setelah berkeliling di penjuru internet, membaca begitu banyak interview dengan sinematografer dan sutradaranya akhirnya didapat sebuah jawaban dari motif mengapa objek ditaruh dibawah frame. Secara singkat cara tersebut disebut sebagai “Cathedral Feeling” dimana karakter diposisikan lebih rendah dikarenakan ada background masa lalu yang menjadi permasalahan yang lebih besar. Konsep ini sejalan dengan cerita yang ada didalam film. Sinematografer Lukasz Zal mengatakan “peletakan objek yang tidak biasa juga menggambarkan perasaan kehilangan dan juga terisolasi. Dan hal tersebut tidak hanya dirasa aneh tapi malah semakin menguatkan apa yang menjadi tema film ini sendiri”. Selain itu cara ini dianggap tepat dengan penggunaan aspect ratio yang tidak terlalu lebar. Sehingga memberikan perasaan yang lebih lega.

Best-Foreign-Language-Feature-Film

FRAMING
Dalam kerangka fotografi, yang dimaksud framing adalah tehnik yang membuat objek utama (POI) menjadi lebih kuat dengan memblokir atau membatasi elemen yang ada didalam foto dengan menggunakan sesuatu yang mengelilingi objek utama. Framing sendiri memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah :
1. Memberikan konteks pada foto, karena framing akan memberikan kesan sebuah pembatasan dan pemahaman terhadap lingkungkan yang ada didalam frame.
2. Memberikan kedalaman pada foto, karena framing biasanya akan menempatkan sesuatu benda atau obyek pada foreground yang bisa memberikan dimensi pada foto.
3. Menuntun mata menuju ke Focal Point, karena framing berarti menutup ruang kosong dan memaksa mata menuju ke arah Point of Interest yang kita pilih.
4. Menggugah rasa keingin tahuan Seseorang, terkadang ketertarikan pada apa yang tidak terlihat bisa jadi sama besarnya dengan apa yang terlihat. Penggunaan framing yang tepat bisa membuat penikmat foto berpikir, bahkan berimajinasi apa yang ada di belakang frame tersebut.

vlcsnap-2015-02-23-00h22m47s158

vlcsnap-2015-02-23-00h25m44s137

vlcsnap-2015-02-23-00h27m42s39

Pada Ida banyak sekali scene yang digambarkan dengan objek utama berada di tengah/diantara sesuatu atau bagaimana objek utama yang digambarkan sangat kecil ditengah gambaran environment yang sangat luas.

vlcsnap-2015-02-23-00h23m32s97

vlcsnap-2015-02-23-00h25m01s216

Film ini tidak menggunakan warna. Hanya ada hitam-putih dan gradasi diantara kedua warna tersebut. Jadi pemisahan warna tidak bisa digunakan untuk memperkuat objek utama. Penggunaan framing sungguhlah sangat efektif. Meski tidak ada warna, objek utama tetap sangat kuat. Tanpa adanya framing akan membuat focus perhatian pada objek utama akan terganggu dengan elemen lain, ditambah dengan ketidakadaan warna sebagai pemisah maka hal tersebut akan menjadi sebuah petaka.

KOMPOSISI
Seperti yang sudah penulis jelaskan pada tulisan sebelumnya. Ada dua tehnik utama mengenai panduan akan komposisi. Golden Rule dan penyederhananya yaitu Rules of Third. Dalam kaitannya dengan Ida, penulis akan mencoba sedikit menjabarkan tentang golden ratio.

phi6
Golden Mean atau Rasio Emas adalah istilah yang banyak digunakan di bidang matematika. Golden Ratio diperoleh dari pembagian satu angka dalam deret Fibonacci dengan angka sebelumnya. Deret Fibonacci sendiri adalah deret angka dimana sebuah angka didapat dari penjumlahan dua angka sebelumnya.

Deret Fibonacci : 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, …..

Hasil pembagian deret angka Fibonacci setelah angka 13 memiliki jumlah yang sama yaitu 1,Angka 1,618. Angka inilah yang dinamakan phi (φ). Angka ii juga disebut sebagai nature number Oleh karena itu angka phi ini dianggap sebagai nilai kesempurnaan sebuah estetika. Sehingga banyak digunakan dalam karya seni terutama lukisan.

golden-ratio
Golden Spiral adalah spiral logaritma yang juga didapatkan dari deret Fibonacci. Didalam fotografi Golden Spiral digunakan sebagai tuntunan dalam menentukan komposisi. Komposisi fotografi adalah masalah menempatkan berbagai benda yang terpotret dalam bingkai fotonya. Bagus tidaknya komposisi sebuah foto sangat tergantung kebutuhan pada foto itu sendiri. Komposisi bisa dibuat dengan mengatur benda yang akan dipotret, atau mengatur angle (sudut pengambilan) dan pilihan lensa untuk obyek pemotretan yang tak bisa diatur. Sinematografi film yang sangat erat kaitannya dengan fotografi juga tidak lepas dari penggunaan Golden Spiral dalam penentuan komposisi.

main-qimg-00f50dad27df2f332cc1aeccb3609fa9

main-qimg-5e8bba34e4cc46c27ae0b45a40bb964e

main-qimg-8b88140967dccf0b222b46a485081b67

main-qimg-8d9d0b50d8f36e90446e3080512ee812

main-qimg-9d965edfba88dc32cc4124fb3baed452

Pada Ida jika diamati lebih detil lagi, semua tersaji sangat sempurna. Bagai sebuah patern yang jelas dan pasti mengikuti tuntunan mayor ini. Bahkan ketika penempatan objek dirasa sangat aneh dan tidak biasa ternyata masih patuh pada patern ini. Meski secara jujur sinematografer mengaku terinspirasi karya-karya Jerzy Wójcik, seorang sinematografer kenamaan asal Polandia, tak mengurangi kehebatan Ida. Betapa jeniusnya si sinematografer. Hal ini mengapa penulis menempatkan hal yang bersifat umum di akhir tulisan. Dikarenakan kesempurnaan Ida sendiri adalah ketika Ida dengan komposisi yang tidak biasa tapi ternyata justru untuk menyempurnakan semuanya. Menyempurnakan sebuah dasar hingga kemudian membuat sempurna materi yang ada diatasnya.

vlcsnap-2015-02-23-00h20m11s132

vlcsnap-2015-02-23-00h25m11s56
Tak salah jika Ida mendapat nominasi kategori sinematografi terbaik. Ditengah perang digital vs film dan metode yang semakin canggih. Ida -meski hanya bisa berangan-angan bisa direkam dalam media seluloid- tetap menekankan metode yang justru sangat klasik. Dengan style classicnya tidak membuat Ida kehilangan keindahan visualnya. Sutradara dan sinematografer mampu meramu cara yang  memperkuat filmnya itu sendiri.

oleh : Yohan Arie (@aerorun)

Daftar Bacaan :

http://www.quora.com/Is-there-a-special-composition-structure-in-Polish-film-Ida-2013

https://www.lensculture.com/articles/ryszard-lenczewski-cinematography-from-still-to-movie#slide-2

http://filmmakermagazine.com/85840-ida/#.VOnzX_msV5I

http://www.infotografi.com/2012/11/komposisi-fotografi-framing.html

http://www.hongkiat.com/blog/positive-effect-of-negative-spaces-in-photography/