Run All Night (2015)

Run All Night adalah kerjasama ketiga antara sutradara Jaume Collet-Serra dengan Liam Neeson setelah Unknown (2011) dan Non-Stop (2014). Neeson berperan sebagai Jimmy Conlon, seorang pemabuk yang merupakan mantan algojo dari organisasi kriminal New York yang dikepalai oleh Shawn Maguire (Ed Harris). Hubungan Jimmy dan Shawn memang lebih dari sekedar bos dan bawahan karena mereka telah berkawan akrab sejak masih muda. Mungkin di dunia ini hanya Shawn yang masih perduli pada dirinya. Setelah putra semata wayang Jimmy, Mike Colon (Joel Kinnaman) tak sengaja terlibat konflik yang diakibatkan oleh kecerobohan dari putra si bos gangster, maka Jimmy terpaksa harus mempertaruhkan hubungannya dengan Shawn dengan satu tujuan, menyelamatkan anak lelaki yang sebenarnya tak pernah mengakuinya sebagai ayah. Mereka berdua akhirnya menjadi buronan yang paling dicari malam itu.

maxresdefault

Sebagai sebuah thriller yang keseluruhan filmnya bercerita tentang kejadian beruntun dalam rentang waktu 16 jam, Run All Night sebenarnya berhasil membangun ketegangan yang cukup intens melalui adegan kejar-kejaran ala kucing dan tikus antara si ayah-anak dan para pemburunya. Collet-Sera membawa kita mengikuti pengejaran menyusuri wilayah kumuh hingga pusat kota New York dengan kebisingan lintasan kereta api pinggiran hingga riuh Madison Square Garden seusai pertandingan hoki es. Kombinasi pergerakan kamera hebat dan gaya penyuntingan yang dinamis sangat mujarab ketika diaplikasikan pada scene pertarungan jarak dekat yang brutal dan kebut-kebutan mobil di tengah kepadatan lalu lintas New York. Pada beberapa bagian, adrenalin penonton akan terpacu dengan deras karena adegan aksi dalam film ini berhasil dieksekusi dengan maksimal.

run-all-night-ed-harris-liam-neeson

Kapanpun Liam Neeson dan Ed Harris beradu akting di dalam satu layar, mereka berhasil memaparkan dengan jelas bagaimana kompleksnya hubungan mereka ketika harus berhadapan dengan konsekuensi dari tindakan yang terpaksa mereka ambil namun masih terikat pada kode kehormatan organisasi. Yang disayangkan, para pemeran lain terutama Joel Kinnaman tidak mampu memberikan impresi sehingga kita kesulitan untuk bersimpati. Hubungan emosional yang diharapkan bisa saling menguatkan malah tidak muncul dan berlalu dengan hampa. Chemistry yang baru akan terjalin secara perlahan mendadak runtuh karena tuntutan plot pada akting yang tidak berimbang.  Plot yang tidak berimbang tadi memaksa seorang pemabuk tua lemah yang hidup karena belas kasihan mendadak bertransformasi kembali menjadi seorang pembunuh legendaris di masa jayanya dalam sekejap. Ketika alur cerita yang sebenarnya sederhana dibuat menjadi rumit dan bertumpu pada kejadian beruntun yang serba kebetulan membuat film yang sebenarnya bermula asyik ini berakhir dengan melelahkan.two-and-a-half-stars