1eae04bd24fcc1286adf99fc98538b3c

Saya mengenal Dee Lestari sebagai seorang penulis pertama kali ketika kelas 2 SMA. Saat sedang ke gramedia saya tertarik dengan cover dari bukunya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Setelah itu saya menjadi pembaca wajib karyanya. Ada yang berbeda dari tulisan seorang Dee Lestari pra Petir dan setelah Petir. Saat pra Petir, Dee terasa begitu bebas mengangkat tema, membuat karakter sampai lokasi terjadinya cerita pun terasa liar. Perubahan ditunjukkan pertama kali saat rilis Petir, dimana banyak yang berubah dari cara dia bercerita. Dan pada novel-novel selanjutnya Dee seperti telah menemukan area nyaman (atau aman? Saya tak tahu) yang sayangnya lebih banyak mengecewakan saya. Film ini diambil dari sebuah cerita di buku kumpulan prosa dan puisi karya Dee yang rilis tahun 2006 berjudul sama yang ditulis tahun 1996. Bercerita tentang dua orang pemuda yang mendirikan sebuah kedai kopi dan ingin memberikan arti pada setiap kopi yang mereka suguhkan. Disini Dee memberikan nilai yang berbeda dari secangkir kopi. Cenderung simpel dan ringan tapi tidak dangkal.

Pada awal film diceritakan bagaimana kedai kopi milik Jodi yang dikomandoi seorang barista bernama Ben, memiliki berbagai macam keunikan yang merupakan cerminan dari karakter Ben yang merupakan pemuja kopi. Tetapi dibalik keunikan kedai kopi tersebut ternyata terdapat masalah. Jodi terlilit hutang warisan dari ayahnya yang membuat dia harus berpikir keras bagaiamana memperoleh pendapatan cukup bear tanpa harus menjual kedai yang dia punya. Tujuan mendapatkan keuntungan yang besar dari kedai kopi yang ternyata tidak sejalan dengan pemikiran Ben adalah konflik utama yang ditawarkan pada film ini.

 Film-Filosofi-Kopi-04-690x364

Penulis cerita tidak memberikan perubahan yang berlebihan pada cerita asli yang diangkat. Meski ada beberapa hal krusial yang dihilangkan (seperti awal mula mengapa kedai kopi tersebut bernama Filosofi Kopi), tapi digantikan dengan scene-scene yang memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi. Meski “kedalaman” rasanya pun berubah tapi memang tidak mungkin untuk menterjemahkan seluruh kata dalam tulisan ke gambar bergerak. Ditambah konflik yang mengalir pelan film ini mampu membuat mata dan pikiran untuk tetap tertuju ke layar. Sebagai seorang yang sangat dekat dekat seorang ayah, jujur film ini mampu membuat hati saya bergetar dan membuat penilaian saya akan film ini tak sekedar hanya sebuah tetek bengek tekhnis belaka. Sangat subjektif. Pada setiap hubungan antara ayah dan anak selalu saja ada riak-riak. Dan penyelesaiannya bergantung pada kita sendiri entah saat kita berperan sebagai seorang ayah atau saat kita berperan menjadi seorang anak. Tapi satu yang pasti cerita film ini mengingatkan kembali pada suatu hal yang tak pernah saya sempat ucapkan kepada ayah saya. Dikarenakan keengganan dan keeogisan saya yang bakal saya sesali seumur hidup, yaitu sebuah ucapan terima kasih secara langsung.

 Selain cerita, hal lain yang terlihat sangat kuat di film ini adalah acting kedua pemain utamanya. Sosok seorang penggila kopi yang punya masa lalu yang kelam mampu dimainkan sangat baik oleh Chicco Jerikho. Lawan mainnya pun Rio Dewanto mampu mengimbanginya. Disini bisa dilihat kerja sutradara bisa dibilang sukses dalam menghidupkan dan menyatukan karakter-karakter tersebut. Julie Estelle pun tak sekedar hanya menjadi pemanis. Meski peran minor tapi kehadirannya memberikan variasi pada film.

 Filosofi Kopi (2015) image stills gambar

Untuk departemen scoring ada sedikit Explosions in the Sky-esque pada stylenya. Alunannya memperkuat rasa film ini. Berbeda dengan music, ada catatan khusus untuk sinematografi. Sejauh ini saya tidak menemukan alasan mengapa style kamera dibuat seperti itu. Kamera yang bergoyang-goyang sempat saya kira kesalahan pihak bioskop, setelah beberapa lama baru kemudian yakin stylenya memang seperti itu. Hal ini wajar jika menjadi pertanyaan. Film ini tidak memiliki banyak gerak kamera. Kalaupun ada gerak kamera bukan gerak kamera yang bombastis. Entah mengapa kamera tidak dibiarkan diam, pada beberapa scenes kamera malah bergoyang cukup ekstrim. Sutradara dan sinematographer mugkin memiliki maksud tertentu tapi sejauh ini saya tidak mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan yang akhirnya membawa saya pada sebuah kesimpulan : hal ini sangat menganggu. Jika ada yang tahu atau mungkin filmmakernya membaca review ini, mungkin bisa memberikan pencerahan dari hal tersebut.

1616430FilosofiKopiVisinemaPictures780x390

Ada kata-kata yang tak pernah saya lupa dari cerita asli Filosofi Kopi. KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI: KOPI TIWUS. ARTINYA: WALAU TAK ADA YANG SEMPURNA, HIDUP INI INDAH BEGINI ADANYA”. Film tak melulu masalah tekhnis, film ini mungkin ada kekurangan. Tapi film ini tetap bisa membuat penontonnya melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, membuat kita melihat kopi dari sudut pandang seorang Ben atau melihat masalah dari sudut pandang Jody. Film ini tak hanya bercerita tentang kopi tapi juga bercerita secara baik bagaimana hubungan seorang anak dan ayah serta setiap nilai yang ada didalamnya.

3.5starsoleh : Yohan Arie (@aerorun)