scene-from-mad-max-fury-road_100474074_h

George Miller sang sutradara telah menunjukkan kemampuannya saat menciptakan Mad Max tiga dasawarsa silam. Kegilaan, keputusasaan, harapan di sebuah dunia tanpa masa depan telah sukses dia hadirkan. Kesuksesan yang akhirnya menjadi sebuah pakem bagaimana film post-apocalyptic itu seharusnya dibuat. Tapi sayang dari sekian banyak yang berusaha membuat film di jalur yang sama hanya segelintir saja yang bisa disebut sangat memuaskan.

Tahun 2015 ini, George Miller kembali hadir. Sutradara yang juga pernah membuat Babe : Pig In The City dan Happy Feet ini kembali mencoba memberikan kita sebuah suguhan dari ide-ide terliarnya. Dan bisa dilihat di film ini George Miller yang sudah berusia 70 tahun ternyata tetap gila. Dia seakan hadir kembali untuk memberikan pelajaran bagi filmmaker generasi sekarang ini bagaimana caranya membuat film post-apocalyptic.

 

hekhd7g1ddmnboxclncm

Film berpusat pada dua tokoh utama. Seorang pria yang tak punya tujuan hidup selain “survive” bernama Max Rockatansky. Max yang selalu dihantui kegagalan di masa lalunya ini ditangkap oleh kelompok Immortan Joe dan dijadikan sebagai sumber darah untuk seorang prajurit bernama Nux. Ditangkapnya Max ini yang nantinya akan membuat dia bertemu dengan seorang wanita panglima perang bernama Imperator Furiosa. Sang sutradara tidak memberikan banyak kata dalam penggambaran latar belakang dua tokoh utama tersebut. Untuk Max lebih sering dinarasikan via flashback dan bayangan-bayangan imajinasinya. Sedang untuk Furiosa dinarasikan lewat harapan dan tujuannya. Yang menarik adalah selain beda jenis kelamin, dua orang ini juga sangat berbeda dari cara pandang terhadap hidup mereka. Yang satu hanya ingin hidup sedang yang lain berusaha mencari harapanya tersebut. Max memang sedikit digambarkan lebih cenderung sebagai sidekick tapi bukan berarti dirinya tidak mendapat porsi yang cukup besar dalam pengembangan karakternya. Hal lain yang unik adalah meski disini digambarkan dunia tanpa harapan dan tatanan hukum, tak ada sumpah serapah dan adegan sex yang bakal kita temukan.

Di awal kita berbicara tentang kegilaan. Kegilaan sang sutradara tidak hanya dari ledakan-ledakan yang ada di film ini saja. Action sequences nya meski terpusat pada kejar-kejaran antara satu kendaraan dan kendaraan yang lain tapi tidak ada aksi repetitive. Kegilaannya juga dalam hal memberikan elemen-elemen pada temanya. Sekelompok orang yang memuja false god yang mendewakan mesin v8, wanita-wanita indukan utama, kendaraan-kendaraan aneh dengan berbagai macam bentuk dan jangan lupakan seorang praurit yang bertugas mempompa semangat prajurit lainnya dengan bermodalkan raungan suara gitar penuh distorsi. Semua hal itu membuat Mad Max : Fury Road layak disebut sebagai film paling “fun” sepanjang tahun 2015 ini.

mad-max-fury-road-official-2k-ultra-hd-trailer

Kegilaan sang sutradara mampu disokong dengan baik oleh sinematographer. Palet warna utama (orange dan blues) yang tegas dan memiliki saturasi yang tinggi sukses menghantarkan visualisasi tentang dunia yang hancur. Penggunaan lensa lebar juga sangat tepat guna dalam memberikan dramatisasi. Editing juga demikian, adegan kejar-kejaran tidak membuat mata kita sakit karena harus mencari focus diantara cepatnya scene berubah. Ada yang menarik ketika music yang full distorsi sejak awal hingga film hampir berakhir lalu tiba-tiba berubah menjadi music klasik saat Furiosa mendapati kenyataan akan harapannya menambah kesan steampunk.

Mad Max Fury Road bukan sekedar film wajib tonton. Tapi tontonlah di bioskop selagi filmnya masih ada. Layar lebar dan sound system gahar akan menambah berkali-lipat pengalaman menyenangkan menonton film ini.

asas