Jurassic_World_Teaser_Poster

Jurassic World mengambil selang waktu 22 tahun setelah kekacauan yang terjadi di Jurassic Park (1993), film legendaris pelopor penggunaan special effects canggih baik CGI (computer-generated imagery) maupun animatronics. Masih berlokasi di tempat yang sama yaitu Isla Nublar, kini taman bermain dengan tema prehistorik itu telah berfungsi secara penuh dan dipadati oleh pengunjung. Rupanya para investor masih kurang puas dengan makhluk-makhluk yang sudah ada. Saking biasanya, Stegosaurus disamakan seperti gajah pada umumnya. Upaya mereka ini diwujudkan dengan membuat spesies dinosaurus hibrida Indominus Rex, pemuncak rantai makanan yang lebih buas, cerdas, dan cepat. Dan upaya manusia untuk bermain-main sebagai Tuhan ini pun kena batunya (lagi).

Cerita yang mudah ditebak bukanlah masalah utama dari Jurassic World. Benar, film ini merupakan homage yang sempurna untuk Jurassic Park. Selain hal-hal yang bersifat trivial, ada beberapa bagian dari film ini yang sengaja membawa kita bernostalgia ke lokasi tempat Jurassic Park dulu berdiri. Sengaja, karena bangunan dan isinya yang sudah 22 tahun hancur itu tidak tersentuh sama sekali, namun anehnya menyimpan peripherals yang masih berfungsi setelah dua dekade. Sebagai film yang sangat tergantung kepada special effects, Jurassic World terlihat seperti mengesampingkan masalah naskah dan interaksi antar pemain. Skrip cerita yang generik berusaha dibuat penuh intrik dengan twist lemah yang melibatkan InGen Corp, perusahaan mendiang John Hammond (perintis Jurassic Park) dengan kepentingan korporasi militer. Saking lemahnya, subplot itu tidak akan mengganggu film apabila ditiadakan. Masalah juga timbul pada interaksi antar karakter utama dengan chemistry yang dipaksa muncul lewat serangkaian adegan komikal. Penonton akan menyukai Chris Pratt, namun akan kesulitan untuk berkoneksi dengan para karakter lain yang tidak diberikan ruang untuk berkembang.

jurassic-world-sb-header-2

Terlepas dari kekurangan yang sebenarnya bisa dimaklumi, hal yang membuat Jurassic World sukses sebagai sebuah bentuk hiburan adalah kemahiran sutradara Colin Trevorrow dalam mengeksekusi setiap adegan aksi yang berpadu dengan efek khusus berlimpah. Kerjasama empat sekawan Velociraptor dan pelatih mereka Owen Brady (Chris Pratt) ketika menerjang kegelapan hutan untuk memburu musuh utama mereka akan membuat kita bersorak kegirangan, belum lagi duel keroyokan antar spesies dinosaurus yang memukau. Walau beberapa shot seperti dipaksakan demi faktor estetika, Trevorrow sukses membuat jantung penonton berdegup kencang dan berkali-kali menahan napas menyaksikan kebuasan serangan dinosaurus yang mengamuk tak terkendali. Seru dan menyenangkan. Dua hal yang sulit kita temukan pada film-film musim panas yang telah rilis tahun ini. Jurassic World adalah wujud hiburan murni dari sebuah summer blockbuster movie  3.5stars