Bande à part [1964]

Godard’s Flick

Bande_a_part_01

Sebelum membahas filmnya, saya ingin menceritakan sedikit tentang sang sutradara Jean-Luc Godard (dan akan ditulis Godard untuk setelahnya). Susan Sontag pernah menyebutkan bahwa Godard adalah perusak sinema. Bukan tanpa alasan penulis kelahiran Amerika tersebut menyebut Godard demikian. Godard adalah seorang kritikus yang menulis untuk jurnal film bernama Cahiers du Cinema. Bersama teman-temannya (yang nantinya juga sama-sama menjadi sutradara hebat) Godard menolak mentah-mentah ide tentang perfilman yang sedang berlaku di Perancis saat itu. Para pemuda tersebut sangat mengidolakan Hollywood dan Amerika yang saat itu memang sedang mengalami masa jayanya. Karena keinginan untuk mereformasi perfilman itulah pemuda-pemuda tersebut akhirnya turun langsung untuk menjadi sutradara.

Banyak hal berbeda yang mereka tawarkan pada film-filmnya jika dibandingkan dengan perfilman di Perancis dan eropa saat itu. Yang paling mudah dilihat adalah dari segi visual. Jika film-film pada umumnya sangat memperhatikan detil, letak lighting, kerapian produksi. Film-film para pemuda lulusan Cahiers du Cinema terlihat sangat berbeda kalau tidak bisa dibilang sangat buruk dan berantakan. Kamera terlihat seperti diletakkan dan bergerak semau mereka, lighting pun hanya seadanya dikarenakan rata-rata scenes diambil diluar ruangan dan dengan editing yang bakal membuat editor lulusan sekolah formal di Amerika sana marah karena tidak diperhatikannya dasar-dasar editing yang baik oleh para pemuda tersebut.

vlcsnap-1038654 

Secara naratif dan cerita, film-film buatan pemuda-pemuda tersebut sedikit terpengaruh oleh neo-surrealism dan ditambah referensi-referensi dari film-film Amerika dan Eropa yang terkenal (serta kadang budaya popular yang amerika punya). Ada elemen komedi yang cukup kuat meski tidak seperti komedi film-film dari Amerika pada saat itu. Mereka seakan menciptakan gaya baru komedi satir mereka. Ada imitasi ada pula parodi. Untuk hal lain yang terasa “aneh” yang terdapat di film mereka adalah ritme mereka cenderung berubah-ubah. Kadang sangat cepat kadang malah sangat lambat, Kadang saat melakukan perbuatan A mereka malah membicarakan hal B yang tidak ada kaitannya dengan perbuatan yang sedang mereka lakukan, banyak hal-hal yang tidak memiliki basic korelasi yang jelas sering muncul di film. Gaya ini akhirnya oleh Françoise Giroud dinamakan sebagai French: La Nouvelle Vague atau French New Wave.

 

Godard pernah berkata ”Cinema had become too routine, and the point of the New Wave was to go against that.” Dan tidak salah jika Susan Montag berkata seperti apa yang ada di awal tulisan. Sejak film pertamanya yang berjudul À bout de Souffle (1960) rilis, Godard sudah menunjukkan ke-rebel-annya. Film yang tidak begitu berpengaruh di negaranya sendiri tapi sangat berpengaruh untuk Hollywood itu dianggap sebagai salah satu peletak dasar sinema modern kedepannya nanti. Dengan tekhnik jump-cut nya yang terkenal, alur naratif yang tidak formal berupa awal, tengah, akhir, tetapi bisa apa yang harusnya di awal malah diletakkan di akhir begitu pula sebaliknya. Godard adalah sosok paling berpengaruh bagi filmmaker modern mulai Quentin Tarantino sampai Wong Kar-Wai terutama dari cara film-filmnya bertutur. Film-filmnya terkadang sangat sulit untuk diikuti. Godard menarasikan apa yang sedang terjadi di dalam film tapi tidak menghentikan dialog dari para karakter yang ada di dalam film pada saat bersamaan. Otak kita kadang bingung harus mengikuti narasi Godard atau obrolan para karakter di film. Tidak ada yang mampu menerjemahkan apa motif Godard sebenarnya. Yang ada adalah Godard memang menolak konsep baku perfilman pada saat itu. Dan itu dia terapkan hampir pada seluruh elemen-elemen yang ada di filmnya.

maxresdefault

Bande a part adalah film ketujuh Godard. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara Bande a part dengan film-film Godard sebelumnya. Style cara bercerita, karakter, tekhnis sampai referensi tentang budaya popular Amerika dan Eropa yang ada di film-film sebelumnya juga muncul di film ini. Perbedaanya mungkin dari segi tujuan Godard menulis film ini. Film ini ditulis sepertinya sebagai sarana dia bersenang-senang. Film yang ringan tanpa adanya pesan-pesan politis tersembunyi, seperti sebuah film criminal murahan dari Amerika sana. Tapi tetap dengan cara bertutur ala Godard (yang mau tidak mau harus diakui cara bertutur Godard tidak awam) dan memberikan atau malah memaksa penonton untuk mengartikan sendiri maksud filmnya.

Bande a part bercerita tentang tiga orang. Dua orang sahabat dari kelas menengah bawah yang cenderung kriminil Arthur (Claude Brasseur) dan Franz (Sami Frey)serta seorang wanita muda bernama Odile (Anna Karina). Dua orang pemuda pengangguran tersebut merencanakan tindak kejahatan setelah teman sekelas mereka di kelas Bahasa Inggris, Odile bercerita kepada Franz bahwa di tempat dia tinggal Mr. Stolz menyimpan banyak uang di sebuah lemari di dalam kamar yang keduanya tak pernah terkunci. Sebenarnya mudah sekali menebak kemana arah film ini nantinya. Tapi bukan disana intinya. Godard memberikan sentuhan-sentuhan dalam setiap elemen film dengan style nya. Ada cinta segitiga diantara ketiga karakter utama tersebut. Arthur menyukai Odile, tapi Arthur cenderung ingin memanfaatkan Odile saja, begitu pula Franz meski lebih cenderung mengalah seakan-akan perasaanya hanya perasaan sepintas lalu saja. Sedangkan Odile adalah salah satu karakter paling menawan yang pernah ditulis oleh Godard. Odile adalah seorang wanita muda yang sangat naïf (dia mengidamkan seorang sosok suami pada diri Arthur, sosok yang bagi dia adalah sebuah jalan keluar). Dia sadar dia dimanfaatkan tapi dia malah mengamini . Odile adalah mangsa yang sangat mudah bagi dua orang criminal tersebut. Odile dengan gesturenya yang menggoda, pemikirannya yang polos, kesedihan dan usahanya untuk bisa diterima oleh orang lain (Odile bercerita tentang keberadaan uang tersebut awalnya agar dia bisa diterima oleh Franz dan Arthur) membuat karakternya begitu iconic.

Ya, Godard tidak membiarkan film menjadi mudah atau normal, jika mudah dianggap kata yang tidak tepat. Godard tidak membiarkan film hanya berjalan sesuai premis utamanya. Setelah memberikan karakter yang unik (modif dari inspirasinya yaitu film-film Amerika), Godard juga membuat film ini bercerita kemana-mana. Alih-alih harusnya membahas bagaimana cara melaksanakan misi utama, Godard malah bercerita bagaimana ketiga tokoh utama menikmati Paris dengan cara rebel mereka. Menari di café, berlari di di museum Louvre, menaiki kereta metro. Bercerita tentang diri mereka masing-masing dari sudut pandang mereka yang merupakan kelas mengah bawah. Semuanya dibalut sedikit melankoli , kelam, satir dengan penggambaran kota Paris yang tidak biasanya. Paris yang romantic dan ceria tidak ada di film ini. Paris disini cenderung murung, kesepian dan sedikit keras. Ditambah pewarnaan hitam putih yang tegas dengan shadow yang cenderung keras dari sinematografer Roul Cotard menambah kesan kesepian dan muramnya film ini. Ketiga tokoh utama menikmati hidup mereka dengan keterbatasan-keterbatasan yang mereka miliki. Scene paling memorable di film ini yaitu ketika ketiganya berdansa di sebuah café dengan iringan lagu dari musisi Amerika John Lee Hooker berjudul Shake it Baby juga menunjukkan keterbatasan-keterbatasan mereka. Dansa yang sebenarnya tidak bagus bahkan sering tidak sinkron ini adalah penggambaran bagaimana mereka bersenang-senang meski mereka tidak dalam kondisi berada. Godard menceritakan bahwa keinginan mereka untuk merampok di rumah Odile adalah agar mereka bisa terbebas dari keterbatasan-keterbatasan tersebut. Dan Godard pun tidak memberikan penghakiman atas tujuan dua pemuda criminal tersebut, bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang buruk. Dia bahkan memberikan sedikit pembenaran ketika keduanya tahu uang tersebut adalah uang pajak Negara yang dikorup oleh si pemilik uang. Godard malah mempertegas pemikiran tersebut bahwa si pemilik uang adalah pencuri juga sama halnya dengan dua criminal tersebut. Dalam tatanan social tidak ada yang membenarkan perampokan dengan motif apapun tetapi Godard kembali memaksa penontonnya untuk memahami apa yang menjadi dasar perbuatan tersebut. Pemikirannya benar tapi perbuatannya salah. Cenderung abu-abu. Ada dualisme makna dari motif perampokan. Dan penonton dibebaskan memilih yang mana.

Alasan mengapa saya sangat menyukai film ini adalah bagaimana Godard mampu mencampur element diatas dengan kecintaan dia akan sinema dan seni dari Amerika dan Eropa plus cara bercerita yang unik. Setelah tema yang diambil mirip dengan film-film criminal kelas B, banyak referensi lain seperti saat Frans dan Arthur menirukan aksi Pat Garret saat menembak Billy The Kid sampai Shakespeare dan Edgar Allan Poe. Minute of silence adalah bagaimana Godard bermain-main. Momen yang mungkin selalu dialami oleh setiap orang dalam setiap perbincangan tersebut dihadirkan Godard dengan cara yang kalau boleh dibilang menyebalkan. Dari kondisi café yang ramai dan suara obrolan ketiga tokoh utamanya tiba-tiba semua di mute tidak ada suara sama sekali. Benar-benar Minute of silence secara literal walau nyatanya hanya berlangsung 36 detik saja. Atau bagaimana saat mereka berdansa, Godard malah menarasikan pikiran kotor salah satu pemuda tersebut. Tak pernah ada hal seperti ini kalau bukan di French New Wave atau kalau bukan Godard khususnya.

Bande a part bukanlah film terbaik Godard. Film ini juga tidak serevolusioner À bout de Souffle (1960) tetapi Bande a part memiliki daya tarik yang berbeda. Meski sebenarnya kelam, Bande a part tetap terasa cute.

 

Referensi :

David Bordwell : Godard And Narration, Narration In The Fiction Film, 1985

David Bordwell: French New Wave, 1959-1964