Ketika Denis Villeneuve merilis Sicario dan menawarkan tema “cartel”, apa yang kita dapatkan bukan seperti film-film cartel yang sudah-sudah. Jumlah baku tembak bisa dihitung dengan jari, kekejaman ala cartel pun bahkan tidak ada. Yang ada adalah bagaimana tokoh utama berjalan ditengah keabu-abuan yang belum pernah dia hadapi sebelumnya. Keabu-abuan yang membuat tokoh utama seakan tidak punya kekuatan sedikitpun untuk menentukan alur film. Arrival pun tak jauh berbeda. Mungkin salah satu pertanyaan terbesar dalam sejarah umat manusia adalah Are we alone in the universe? Jika anda berharap film ini membahas panjang lebar mengenai hal tersebut maka bersiaplah kecewa. Tidak ada peperangan antara manusia vs alien, tidak ada pertunjukkan tekhnologi canggih yang biasa ada pada sci-fi. Tapi ada hal yang jauh lebih mendalam yang berkaitan dengan manusia itu sendiri yang akan diangkat oleh film hasil adaptasi cerita pendek karangan Ted Chiang berjudul Story of Your Life. Salah satu hal yang paling primitif yaitu Bahasa.

Berawal dari mendaratnya 12 pesawat (kita langsung sebut saja alien) di berbagai lokasi di bumi yang mengakibatkan berbagai kekacauan. Dan yang lebih menyulitkan lagi bahwa 12 pesawat tersebut tidak berbuat apa-apa melainkan hanya diam. Pihak berwajib pun berusaha mencari tahu apa tujuan pesawat-pesawat tersebut. Apakah mereka teman atau lawan. Mulai dari mencari hubungan dari 12 lokasi (yang mendekati teori ini malah sebuah lagu), mengirim ilmuwan untuk meneliti pesawat tersebut. Sampai akhirnya mencari seorang ahli Bahasa untuk menerjemahkan gumaman para alien tersebut.

Dr. Louise Banks diperankan oleh Amy Adams adalah seorang ahli Bahasa dan pengajar di sebuah universitas. Kemampuannya menerjemahkan pesan teroris dalam Bahasa Farsi membuat dia datangi lagi oleh Colonel Weber (Forest Whitaker) untuk membantu dalam kasus alien ini. Ditemani oleh ilmuwan sedikit menyebalkan bernama Ian Donnely yang diperankan oleh Jeremy Renner.

Dalam beberapa tahun terakhir ada semacam trend di film sci-fi yaitu film-film tersebut lebih “manusiawi”. Memberikan porsi emosi yang cukup besar pada ceritanya. Sebut saja Gravity (2013), The Martian (2015) atau Interstellar (2015). Arrival juga melakukan hal yang sama, plus menambahkan unsur eksistensi umat manusia di alam semesta yang pernah diangkat dalam Contact (1997) dan beberapa referensi dari 2001: A Space Oddysey. Meski demikian ada hal yang segar dari bagaimana cara sutradara bercerita. Cara bercerita yang sangat rapi, berjalan pelan sampai meledakkan emosi di final dengan twist yang juga megah. Semua telah disiapkan dari awal, tak ada scene yang percuma. Jika di ending Sicario kita dibuat bertanya-tanya tentang apa artinya karena memang oleh sutradara dibiarkan mengambang, di ending Arrival kita diberi jawaban pasti.

Ada beberapa hal yang membuat Arrival begitu berkesan. Amy Adams membuktikan dirinya adalah salah satu yang terbaik di industri ini. Porsi yang cukup besar mampu di handle dengan sangat baik. Saat menampilkan ekspresi yang tanpa berkata dan menggerakkan tubuh pun dia terlihat begitu hebat. Kehebatan penulis Eric Heisserer dan sutradara menyusun cerita disokong penuh dengan kesempurnaan sinematografi Bradford Young. Banyaknya penggunaan available light mendukung mood yang diciptakan film ini. Dia juga bisa menempatkan kapan harus bermain tegas atau kapan ketika harus mendayu-dayu. Pemilihan lensa juga tepat. Menggunakan dof sempit ketika flashback atau Louise agak terganggu kosentrasinya, dof yang lebar ketika bertemu dengan Abbott and Costello. Di bagian scoring Johan Johansson tak mau kalah dengan kehebatan yang lain. Sebagai salah satu pembentuk emosi, scoringnya salah satu yng terbaik tahun ini. Dari yang bernuansa sedih ketika flashback, sampai yang eerie dan unsettling pas dengan kode-kode tak terbaca yang dikeluarkan Abbot and Costello. Atau ketika menggunakan frame per second(FPS) yang berbeda ketika Louise memasuki dimensi yang berbeda (meski mungkin ini cenderung pada editing).

Untuk saya pribadi, cara sutradara dan penulis bercerita adalah hal yang paling sempurna dari film ini. Membuat kita menilai ulang apakah sebenarnya flashback tersebut, apakah yang ingin disampaikan dari flashback, dan bagaimana kita membaca dan mencerna sebuah film. Jean-Luc Godard pernah berkata “A story should have a beginning, a middle and an end, but not necessarily in that order.” Denis Villeneuve menatanya dengan sangat rapi. Dalam sebuah twist, dibutuhkan turning point yang tepat dan sutradara benar-benar mempersiapkan semuanya dari awal, ketika twist tersebut muncul penonton hanya bisa geleng-geleng kepala dikarenakan telah menyadari bahwa mereka salah mencerna dari awal film tanpa harus ada penjelasan lagi di filmnya.