Bong Joon-ho adalah salah satu sutradara terkemuka asal Korea Selatan. Film-filmnya pun mendapat respon yang bagus baik di dalam negeri ataupun di luar negeri, termasuk film terakhirnya Snowpiercer (2013). Untuk “Go International” nya kali ini, Bong Joon-ho bekerjasama dengan perusahaan streaming terbesar saat ini Netflix. Netflix sendiri berusaha menembus dominasi produsen-produsen besar Hollywood dengan cara yang sedikit berbeda.

Saat diputar pertama kali di Cannes Film Festival bulan Mei kemarin, Okja menimbulkan kegaduhan. Mendapat respon tak simpatik saat pemutaran (dikarenakan aspek rasio yang salah dan kesalahan tekhnis lainnya) dan respon tak simpatik lain untuk strategi dari Netflix yang hanya merilis Okja via streaming service. Ketua Juri Pedro Almodovar pun langsung bereaksi, dia berharap bahwa film-film yang ikut dalam kompetisi harusnya diputar secara luas via bioskop seperti bagaimana normalnya sebuah film, panitia pun segera mengambil keputusan dengan membuat aturan bahwa mulai tahun depan film-film yang berkompetisi di Cannes Film Festival harus dirilis di bioskop Perancis. Hal yang nantinya bakal menyusahkan Netflix, dikarenakan peraturan dari negara Perancis sendiri dimana sebuah film baru bisa hadir di streaming service 36 bulan setelah perilisan di bioskop. Jika hari pertama banyak dicela, beda dengan pemutaran hari berikutnya. Tanpa ada kendala tekhnis, Okja sukses mendapat standing ovation selama 4 menit. Hal-hal inilah yang memantik rasa penasaran banyak orang tentang bagaimana sebenarnya film Okja itu sendiri. Meski jujur saja, mau mengeluarkan uang sebesar $50 juta untuk sebuah proyek yang kurang komersial adalah patut diacungi jempol.

Okja bercerita tentang usaha sebuah perusahaan bernama Mirando dengan CEO nya Lucy Mirando (diperankan oleh Tilda Swinton) untuk mencari alternatif bahan pakan untuk manusia. Dikarenakan masyarakat masih membenci hal-hal yang berbau sintetik dan hasil modifikasi (GMO=Genetically Modified Organisms) maka dibuatlah “sandiwara” tentang di pilihnya 26 peternak seluruh dunia untuk membesarkan Babi Super yang nantinya akan menjadi jawaban atas permasalahan bahan pangan umat manusia. Dan untuk peternak dari Korea Selatan dipilihlah kakek dari tokoh utama.

Okja tidak seperti yang terlihat di trailer-trailernya. Alih-alih bercerita tentang persahabatan Mija dan Okja, film ini terasa sangat padat dan cenderung gelap. Persahabatan antara gadis cilik dengan Babi supernya memang menjadi dasar tetapi di tengah perjalanan sangat terasa sutradara dan penulis naskah memiliki ide yang sangat ambisius. Kritik terhadap industri makanan dan kritik kepada para pembela hak hewan pun bukan lagi diselipkan tetapi dijejalkan. Meski boleh diakui keseimbangan masih bisa terjaga tetapi membuat filmnya terasa sedikit tidak konsisten dalam bercerita. Jika melihat Jon Ronson yang juga menulis skenario film ini pernah menulis kritik berjudul The Psychopath Test: A Journey Through the Madness Industry and So You’ve Been Publicly Shamed, maka penonton seharusnya bisa menebak kemana film ini akan bermuara.

Diluar skenario yang padat (atau ambisius) film ini tetap mampu menghibur, karakter-karakter antagonis disajikan secara komikal, pengenalan karakter utama di 15 menit awal film juga sangat memberikan kesan yang kuat terhadap persahabatan antara Mija dan Okja yang sangat kuat. Tilda Swinton memang tak pernah mengecewakan, memerankan CEO kembar, dia berhasil menggambarkan sosok antagonis yang rapuh dan paranoid serta tegas dan kuat sekaligus. Seo-Hyun Ahn yang memerankan Mija juga tak bisa diremehkan. Paul Dano pun mampu memberikan “rasa” pada karakternya. Mungkin yang sedikit kurang Jake Gyllenhaal yang cenderung seperti orang mabuk dan berlebihan.

Untuk segi visual, nama Darius Khondji memberikan rasa aman. Film ini tak pernah berhenti bergerak. Sinematografinya seperti kebanyakan film-film action Holywood, rapi dan tertata. Meski sutradara sangat ambisius dengan konten film tapi tidak melupakan bahwa film harus tetap punya adegan aksi yang mumpuni. Banyak visual-visual simbolisme pada film ini. Seperti ketika Okja yang baru mendarat di New York, kamera yang berfungsi melihat dari sudut pandang Okja merekam area pemakaman yang sangat luas lengkap dengan frammingnya yaitu terali besi sebuah truk hewan.

Okja adalah film yang bisa dibilang sangat lengkap. Jika anda tidak keberatan dengan satir yang kuat maka film ini akan memberikan tontonan berkualitas. Tapi jika anda keberatan dengan pesan-pesan yang dijejalkan dan lebih berharap cerita fabel klasik antara Mija dan Okja, maka bersiaplah untuk sedikit kecewa.